Family Trip #1 Ada Apa dengan Jogja?

Day-1

Alhamdulillah kesempatan jalan – jalan saat suami libur adalah hal yang kami tunggu. Sebagai pejuang LDR atau LDM, rasanya quality time itu menjadi salah satu kebutuhan yang harus dipenuhi. Biasanya kami jalan – jalan bertiga, pergi dan menginap ke kota lain untuk menghabiskan waktu bersama.

Kebetulan anak kami (Nadhifa, 4th) sangat senang kalau diajak pergi – pergi keluar kota. Rekor terjauh untuk perjalanan jauh melalui udara adalah ke Balikpapan dan untuk perjalanan darat (naik kendaraan pribadi) adalah ke Cilacap. Nanti lah ya nak, Insya Allaah kita menjelajah ke banyak tempat lagi 😀 .

Nah, kemarin kami pergi ke Jogja. Entah kenapa, Jogja masih jadi destinasi favorit. Selaluuu ada perasaan ingin ke Jogja. Mungkin juga karena saya dan suami pernah merasakan fase hidup menjadi mahasiswa di sana. Selain masih banyak tempat yang belum didatangi, Jogja masih relatif dekat dari Solo dan harga untuk menginap maupun makan juga masih sangat terjangkau ;). Tadinya kami sudah bikin catatan destinasi mana saja yang akan didatangi, termasuk tempat – tempat shooting Ada Apa dengan Cinta 2 😆

Kemana saja di Jogja?

1. Joebilly Guitars

IMG_4069_1067x800
Tampak depan dari toko

Begitu sampai di Jogja, suami langsung request untuk pergi ke Joebilly Guitars. Toko ini melayani jual beli gitar bekas maupun baru. Barang – barang yang mereka jual antara lain gitar listrik, gitar akustik, bass, amplifier, effect pedals dan beragam aksesoris lainnya.

Kebetulan memang suami sedang memiliki keinginan untuk membeli gitar listrik. Untuk merk – merk tertentu yang memiliki harga beli baru yang sangat tinggi, gak ada salahnya mencoba melirik gitar bekasnya. Konon gitar itu makin lama malah makin enak dimainkan, hehe. Tapi dengan catatan gitarnya terawat yaa.

Toko ini  memiliki ambience yang asik. Gitar – gitar dipasang secara vertikal untuk memudahkan pengunjung melihat langsung dan membaca pricetag berikut keterangan detail mengenai gitarnya. Pelayanannya juga ramah, terasa sekali saat suami dan salah satu pegawai di sana melakukan diskusi soal gitar. Memang ketika dilayani oleh orang – orang yang tepat di bidangnya, pengunjung akan memberi nilai tambah terhadap toko tersebut.

FotoJet1_1200x800
Ambience di dalam toko
Joe Billy Guitars
Alamat: Jl. Raya Janti no.17 Gedong Kuning Yogyakarta (Barat JEC)
Telp : ( +62 274 – 2840 323 )
Buka setiap hari pukul 09.00 - 22.00 WIB

2. Lotek dan Gado – gado Bu Bagyo

Karena sudah masuk jam makan siang, kami memutuskan untuk makan di lotek dan gado – gado Bu Bagyo di daerah Sagan. Sepertinya sudah ada banyak cabangnya. Warung ini menyediakan variasi menu dari yang serba sambal kacang, sea food, aneka gorengan. Kali ini Nadhifa pesan nasi dan telur goreng, kemudian saya memesan ketoprak dan suami memesan gado – gado.

FotoJet
Daftar menu dan harga di warung Bu Bagyo

Warung ini cukup ramai, menurut saya sih karena porsinya itu termasuk besaaar hehe. Dan harganya pun masih oke untuk ukuran porsi segitu. Sebelumnya, saya pernah kesana dan memesan tambahan bakwan satu porsi. Dengan perkiraan bakwan utuh satu atau dua biji saja yang disajikan (mengingat harganya yang cuma seribu), tapi ternyata yang datang ke meja saya adalah potongan – potongan bakwan satu piring 😀 . Itu banyak sekali, hehe. Untuk yang tidak terbiasa makan dengan porsi besar, saya rasa satu porsi berdua saja sudah cukup.

IMG_4083_1067x800
Kali ini bakwan ambil sendiri hehe

Suatu kesan tersendiri bagi saya, ketika melihat sambal kacang di sini diracik dan dibuat saat itu juga oleh ibu – ibu berseragam apron. Sayangnya untuk lidah kami yang memiliki selera makanan gurih-asin, sambal kacang di sini masuk kategori terlalu manis.

IMG_4082_1067x800
Tempat sambal kacang dan sayuran diracik
Lotek dan Gado - gado Bu Bagyo
Alamat: Jalan Sagan Baru No.1, Terban, Yogyakarta
Buka setiap hari pukul 08.30 - 19.30 WIB

3. Tekoff Coffeeshop

Salah satu tempat favorit saya dan suami adalah coffeeshop. Sebelumnya saya juga pernah ke Tekoff Coffeeshop ini. Karena lokasinya tidak jauh dari warung Bu Bagyo, maka kami pun sepakat untuk mampir ngopi dulu.

IMG_4101_1067x800
Tampak depan dari tekoff coffeeshop

Sekilas melihat eksteriornya saja, saya sudah mendapatkan kesan bahwa bangunan ini well-designed. Tampak rindang dengan pohon ketapang kencana dan tanaman lee kuan yew yang memenuhi pagar. Saat masuk ke area halaman, kami diberi suguhan menarik dari segi penataan dan ragam preferensi untuk duduk menikmati kopi.

FotoJet2_1200x800
Variasi tempat duduk di area halaman bangunan utama

Bangunan ini terdiri dari dua lantai. Lantai pertama adalah sebuah ruangan yang terbilang tidak luas untuk sebuah coffeeshop. Namun perpaduan material dan furniture kayu solid, tegel kunci, beton, besi dan dekorasinya menjadi menarik. Jika boleh meminjam istilah anak sekarang, terlihat instagramable. Begitu membuka pintu masuk pun, aroma kopi sudah tercium dan begitu menggugah selera. Lantai kedua adalah sebuah kantor arsitek. Jadi tak heran jika setiap bagian ruangnya diberi sentuhan desain, karena memang ada peran designer di belakangnya.

FotoJet3_1200x800
Suasana interior di Tekoff Coffeeshop

Jadi jika ingin ngopi di pagi hari, tempat ini bisa jadi alternatif untuk didatangi. Ga banyak coffeeshop yang buka dari pagi. Satu cangkir kopi harganya mulai dari 20.000-an dan rasanya enak. Tapi di sini tidak banyak untuk variasi menu makanannya yaa. Sejauh pengamatan saya, memang yang datang rata – rata adalah mahasiswa desain maupun pekerja freelance yang biasanya membutuhkan inspirasi. Buku – buku yang dipajang pun banyak dipenuhi oleh buku – buku arsitektur.

Tekoff Coffeeshop
Alamat: Jl. Sagan Timur, Terban, Gondokusuman
Buka setiap hari pukul 08.00 - 20.00 WIB
Instagram: @tekoffyk

4. Hotel Pandanaran

Kami memesan hotel di hari itu juga, karena memang rencana ke Jogja ini tidak direncanakan jauh – jauh hari. Kami memutuskan untuk menginap di daerah Jalan Prawirotaman dan menginginkan budget hotel. Dan pilihan kami adalah Hotel Pandanaran. Selama (pernah hidup) di Jogja, saya dan suami belum pernah yang namanya melewati Jalan Prawirotaman 😆 hahaha.

Hotel Pandanaran
Alamat : Jl. Prawirotaman No.38, Brontokusuman, Mergangsan, Kota Yogyakarta
Telepon : (0274) 4580077
Range harga (tergantung season): Rp 300.000,00 - Rp 400.000,00
kali ini dapat promo via traveloka, kami bayar +- Rp 230.000,00

5. Klinik Kopi

#AADC2effect selanjutnya menuntun kami menuju Klinik Kopi untuk bertemu sosok Mas Pepeng. Karena jam operasionalnya tidak panjang, jadi memang sebaiknya sesegera mungkin menuju kesana. Kalau tidak, dijamin akan menunggu antrean lebih lama 😆 . Kami tiba di sana pukul 17.00 WIB dan terlihat sudah ramai pengunjung.

FotoJet4_1200x800
Tampak depan bangunan dan suasana “ruang tunggu” di Klinik Kopi

Bangunan Klinik Kopi ini adalah rumah sekaligus tempat usaha. Didesain oleh seorang arsitek bernama Yu Sing untuk memenuhi keinginan Mas Pepeng yang tidak ingin papan nama namun menjadikan rumahnya sebagai signage itu sendiri. Material bambu dipilih karena memang Mas Pepeng yang menginginkannya dan banyaknya tumbuhan juga menunjukkan kegemaran penghuni rumah dalam hal tanam menanam. Seperti kata Mas Pepeng:

tanaman itu menjadi tanda adanya kehidupan

Begitu datang, kami harus mengambil nomor antrean. Kami dapat antrean nomor 12. Kartu antrean-nya juga memberi edukasi tersendiri mengenai kopi. Seperti layaknya sebuah klinik, kami pun harus antre untuk masuk sebuah ruangan dan menemui Mas Pepeng sebagai baristanya.

Sebuah konsep yang unik, karena selain antre untuk dilayani Mas Pepeng secara langsung, di sana tidak disediakan wifi. Jadi mengobrol dan berinteraksi menjadi pemandangan indah di “ruang tunggu” Klinik Kopi.

Untuk mengusir kejenuhan (anak kami), kami pun bermain tebak gambar sambil sabar menunggu antrean 🙂 . Sebuah memori yang indah untuk kami simpan dan tentunya untuk Nadhifa.

FotoJet5_1200x800
Kartu antrean “pasien”

Pukul 19.00 WIB akhirnya kami dipanggil ke ruang barista. Mas Pepeng menyapa kami dengan ramah dan mengajak berkenalan. Mas Pepeng juga sempat menunjukkan kami foto – foto proses shooting AADC2 di tempatnya dan kenapa menjadi salah satu lokasi yang dipilih oleh sutradara. Pendekatan personal seperti inilah yang menjadikan “nilai jual” tersendiri dari konsep Klinik Kopi 🙂 . Iseng saya bertanya kenapa jam operasionalnya terbilang singkat.

Ga kuat mbak. Aku itu 90% ada di rumah. Keluar rumah juga paling hanya untuk belanja atau kuliner bersama keluarga. Pagi hari mengantar anak sekolah. Lalu istriku yang menyiapkan untuk kue-nya dan aku yang menyiapkan kopi – kopi disini. Sore sudah persiapan untuk buka. Waktu sudah penuh rasanya.

FotoJet6_1200x800
Foto dulu sama Mas Pepeng..

Sambil melihat Mas Pepeng meracik dan menuang kopi, kami mengobrol banyak hal. Hingga sampai pada obrolan yang menguak cerita bahwa Mas Pepeng ini kenal dengan Pak Paulus Mintarga (kebetulan dulu saya pernah bekerja di tempat beliau) dan bahkan Mas Pepeng pernah menjadi salah satu pengisi di acara yang mana saya menjadi salah satu tim panitia, beberapa tahun yang lalu. Obrolan pun menjadi semakin menarik dan cair sehingga Mas Pepeng sempat membagi pesan:

Ada banyak orang yang tidak bisa membedakan mana kesukaan dan mana passion. Suka itu ada batas waktunya, jadi bisa jadi hari ini suka lalu besok bosen atau berubah kesukaannya. Kalau passion itu kita melakukan sesuatu yang cenderung monoton dan berulang – ulang namun ga pernah merasa bosan. Inilah aku dengan kopi.

 

Klinik Kopi
Alamat: Jl. Kaliurang KM. 7.5, Gang Bima, Sinduharjo, Ngaglik, Ngabean Kulon
Buka dari Senin - Sabtu pukul 16.00 - 20.00 WIB
Harga kopi : Rp 25.000,00 (Padusi-light roast); Kue: mulai Rp 15.000,00 - Rp 20.000,00
(kemarin ada cheesecake dan bananacake)
Instagram: @klinikkopi

Sudah menuju jam makan malam. Tadinya kami punya list lokasi AADC2 yakni sate klathak Pak Bari. Namun akhirnya kami memutuskan untuk bersilaturahmi dengan saudara di Jogja untuk makan malam bersama di Kring Krong Foodcenter yang tidak jauh dari Klinik Kopi.

Hawa dingin mulai terasa dan badan juga mulai lelah. Nadhifa masih terlihat bersemangat namun rasanya sudah cukup untuk hari pertama kami di Jogja. Saatnya kembali ke penginapan untuk istirahat.

 

 

 

Advertisements

SOSOK INSPIRATIF #1, SARA NEYRHIZA

Kali ini saya mau membagikan hasil ngobrol saya dengan the one and only Best Announcer of the KPID Jateng Award 2018. Sebelumnya, saya mengenal Sara dengan nama Zahra Noor Eriza. Tapi memang semenjak terjun di dunia broadcast, dia berganti nama menjadi Sara Neyrhiza. Alasannya adalah karena pengucapan melalui radio akan lebih jelas terdengar dengan nama Sara dibandingkan Zahra. Sara lahir di Solo tahun 1990 dan memiliki background pendidikan Ilmu Komunikasi serta Manajemen Marketing.

WhatsApp Image 2018-07-26 at 091102

Saat saya mendengar namanya, yang terbayang adalah sosok perempuan yang produktif dan mencintai pekerjaan – pekerjaan yang dia jalani saat ini. Kalau ditanya kesibukannya apa, saya pribadi akan menyusulkan pertanyaan “Kamu masih sempat melakukan itu semua?” Continue reading “SOSOK INSPIRATIF #1, SARA NEYRHIZA”

A Home Team

Tulisan ini saya buat karena mengikuti kuliah whatsapp Ibu Profesional dengan judul yang sama. Pematerinya adalah sebuah keluarga yang terdiri dari 3 anggota yakni Bapak Lukmanul Hakim (sebagai leader dan driver), Ibu Noor widyaningsih (sebagai eksekutor program & juru bicara) dan Qaulan Sadiida (sebagai eksekutor dan navigator). Wah masing – masing nampaknya memiliki peran yang “tidak biasa” ya..

ground group growth hands
Photo by Pixabay on Pexels.com

Kenapa menyebutnya dengan HOME TEAM? Continue reading “A Home Team”

Mengenal Institut Ibu Profesional (IIP)

tittle

Yeay..  postingan pertama!

Postingan pertama saya ini khusus saya dedikasikan untuk Institut Ibu Profesional atau biasa disingkat dengan IIP ini. Yup, kenapa? Karena melalui kegiatan matrikulasi kemarin itulah, saya tergerak untuk menulis lagi. Dan pastinya ingin berkontribusi lebih baik dan lebih banyak lagi.

Adakah yang belum tau mengenai Institut Ibu Profesional?

Continue reading “Mengenal Institut Ibu Profesional (IIP)”